Indonesia: Cerita Tentang Sebuah Nama

Sebagai warga Negara Indonesia, pada saat sekolah dulu, tentunya kita pernah mendengar bahwa Indonesia adalah Negara kepulauan, dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika, berbendera Merah-Putih, dan sebagainya. Tetapi sebetulnya seberapa jauh kita sudah mengenal bangsa kita sendiri?

Kami akan mencoba menceritakan berbagai hal mengenai Indonesia – sekedar untuk mengingatkan akan hal-hal yang mungkin pernah kita lupakan, atau berbagi hal-hal yang belum pernah kita ketahui. Semata-mata untuk semakin meningkatkan kecintaan kita terhadap tempat di mana kita menjejakkan kaki kita hari ini, Indonesia.

Indonesia.

Sebuah kata dengan lima silabel yang terucap ketika menyebutkan tanah kelahiran kita dan dijeritkan saat menyaksikan tim-tim nasional berlaga di kejuaraan-kejuaraan internasional. Sudah jelas, bahwa kata itu terpahat dalam hati dan mengalir dalam diri kita.

Tetapi, apakah kita pernah mengetahui sejarah dari kata itu sendiri?

Mengacu pada referensi dari Wikipedia, pada jamannya dulu, tanah air kita ini dikenal dengan berbagai nama oleh beragam bangsa. Hal ini berlaku untuk beberapa lama, hingga akhirnya Eduard Doues Dekker (1820 – 1887) mengusulkan untuk member nama Insulinde, yang berarti “Kepulauan Hindia”, karena letaknya berada di antara Persia dan Tiongkok – yang saat itu disebut oleh Bangsa Eropa sebagai “Hindia”.

Nama usulan tersebut tidaklah terlalu populer. Dan pada sekitar tahun 1920, Ernest Francois Eugene Douwes Dekker (18791950 atau disebut juga Dr. Setiabudi, memperkenalkan nama lain, yaitu Nusantara untuk menyebut tanah air kita, yang berarti “nusa di antara dua benua dan dua samudera”. Kata ini menjadi lebih populer, bahkan hingga kini masih digunakan untuk menggambarkan Indonesia dari Sabang hingga Merauke.

Lalu, dari mana “Indonesia”-nya?

Ohoho.. Nanti dulu. Pergumulan tentang pemberian nama belum selesai sampai di situ.

Soalnya, pada tahun 1847, di Singapura terbit sebuah majalah ilmiah tahunan, Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia (JIAEA). Dan pada tahun 1848, ada ahli etnologi Inggris, George Samuel Windsor Earl (18131865 Indische Vereeniging

Earl kemudian menulis sebuah artikel di jurnal itu. Di artikelnya itu, dia bilang bahwa sudah saatnya bagi penduduk kepulauan Malaysia dan kepulauan Hindia untuk mempunyai nama khas tertentu. Soalnya, nama ”Hindia” sering rancu dengan nama ”India” yang lain.

Di situ dia kemudian mengajukan dua nama untuk kedua kepulauan itu, yaitu Malayunesia dan Indunesia. Meski begitu, dia sendiri memilih untuk menggunakan ”Malayunesia”, karena selain dinilai sangat pas untuk ras Melayu, bahasa yang dipakai pun toh juga bahasa Melayu. Sehingga akhirnya di artikel itu, Earl juga cenderung menggunakan ”Malayunesia” .

Ternyata pada JIAEA volume yang sama, di tahun itu, James Richardson Logan – pengelola JIAEA, juga menulis sebuah artikel berjudul The Ethnology of the Indian Archipelago. Nah, di sini, dia juga berpendapat sama bahwa sudah saatnya tanah air kita punya nama yang khas karena “Indian Archipelago” itu terlalu panjang dan membingungkan. Akhirnya, dia menggunakan kata “Indunesia” yang tidak jadi digunakan oleh Earl untuk mempersingkat terminologi tersebut. Hanya saja, demi alasan kemudahan pengucapan, dia mengganti huruf U menjadi huruf O. Lalu apa yang kita dapat sekarang?

Yap. Indonesia.

Nah, karena si Bapak Logan tersebut itu seorang cendekia yang sering membuat tulisan ilmiah, lama-kelamaan terminologi “Indonesia” menyebar ke kalangan ilmuwan etnologi dan geografi dan digunakan oleh ilmuwan lain dalam penelitian-penelitan mereka pada tanah air kita ini.

Orang pribumi yang pertama kali menggunakan nama Indonesia ini adalah Ki Hajar Dewantara. Dia menggunakan nama itu waktu mendirikan biro pers, ketika dia dibuang ke Belanda.

Kemudian, pada sekitar tahun 1920-an, istilah yang tadinya merupakan istilah ilmiah itu diambil alih oleh tokoh-tokoh pergerakan kemerdekaan bangsa kita ini. Bung Hatta, yang dulunya mahasiswa Handels Hoogeschool di Rotterdam, berinisiatif untuk mengubah nama organisasi pelajar dan mahasiswa Hindia di Negeri Belanda yang tadinya bernama ) berubah nama menjadi Indonesische Vereeniging atau Perhimpoenan Indonesia. Majalah mereka, Hindia Poetra, berganti nama menjadi Indonesia Merdeka.

Hal ini juga ditegaskan sama Bung Hatta karena, ”… nama Indonesia menyatakan suatu tujuan politik (een politiek doel), karena melambangkan dan mencita-citakan suatu tanah air di masa depan, dan untuk mewujudkannya tiap orang Indonesia (Indonesier) akan berusaha dengan segala tenaga dan kemampuannya.”

Nah, setelah itu, mulailah organisasi-organisasi menggunakan nama Indonesia. Setelah itu, barulah pada 28 Oktober 1928 – atau Sumpah Pemuda, “Indonesia” dinyatakan sebagai nama tanah air, bangsa dan bahasa.

Dan perjuangan itu berlanjut, hingga akhirnya pada 17 Agustus 1945, lahirlah suatu republik baru, yaitu Republik Indonesia.

Ternyata butuh perjalanan berliku-liku yah, untuk menentukan nama dari tanah air kita? Karena itu, marilah kita jaga dan cintai selalu.

Hiduplah Indonesia Raya!

Advertisements

8 thoughts on “Indonesia: Cerita Tentang Sebuah Nama”

  1. Komentar (rada) serius:
    Cerita yg lengkap, runut, n enak dibaca tentang nama Indonesia…
    Insulinde, Nusantara, Indunesia, Indonesia…
    Uhm, banyak jg yah…
    Layaknya orangtua yg mberi nama anaknya seindah mungkin dgn tujuan n harapan yg baik…
    Sempat tpikir ingin seperti Shakespeare dan Meriam Belina yg mptanyakan, apalah arti sebuah nama… Don’t judge a country (only) by its name…
    Tapi pada akhirnya, yah lebih milih untuk spdapat dgn (alm.) Bung Hatta, klo nama Indonesia menyatakan suatu tujuan, suatu lambang, n suatu cita-cita akan terwujudnya suatu tanah air di masa depan…
    Untuk mewujudkannya tiap orang Indonesia akan berusaha dengan segala tenaga dan kemampuannya…
    Bisakah kita?
    Maukah kita?

    Komentar santai:
    Wuih…
    Huebat…
    Siapa sih ni yg nulis?
    Mau dong kenalan…

  2. akhirnya ketemu! saya ditanya-tanya teman terus menerus mengenai baju yang saya pakai, mereka mau pesan “katanya”. karena saya kemana-mana selalu bawa baju pulau Indonesia saya.

    bisa lihat profile FB saya ya min https://www.facebook.com/Linda.Umar
    hehehe.

    btw min, saya selalu gatal mau menuliskan kata-kata “keep indonesia close to your heart” dimana-mana, ada syarat gak min?

    thanks,
    Linda Umar

    1. halo, salam kenal.
      wah senang sekali kalau kami bisa jalan-jalan ke pelosok melalui kaos tersebut. tagline “keep indonesia close to your heart” memang menjadi nyawa campaign kami dan tentu boleh digunakan oleh siapa saja yang merasakan dan ingin menyampaikan hal yang sama….syaratnya cuman satu kalo mau nyebarin tagline itu…syaratnya “keep indonesia close to your heart” 🙂

      salam

      -adityayoga-

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s